Rekonstruksi
Nilai-Nilai Falsafah Bangsa
Jum’at,
1 Juni kemarin Indonesia
memperingati hari bersejarah yaitu kelahiran pancasila yang sampai sekarang
dijadikan falsafah bangsa, yaitu sebuah nilai dasar yang dijadikan pedoman
warganya dalam berperilaku dan bertindak. Tujuan dahulu dicetuskan pancasila
oleh para pendiri kita founding father karena mereka memiliki cita-cita bahwa
nilai-nilai fundamental yang digali dari warisan sejati bangsa bisa membuat
Indonesia melesat, andaikata fundamen dasar itu dijadikan landasan pijak (common platform, atau kalimatun sawa).
Namun kenyataan sekarang, ditengah gejolak sosial dan dan aspek-aspek dinamis
mobilitas yang terjadi dalam masyarakat nilai-nilai pancasila kurang di anut
lagi oleh kita, bahkanmemicu untuk dilakukan penafsiran-penafsiran yang
kontekstual terhadap perkembangan jaman. Secara historis nilai-nilai yang
terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum dirumuskan dan di sahkan, secara
objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Dalam hal ini
berarti bangsa Indonesia merupakan kausa materialis Pancasila.
Kehadiran
buku ini dimaksudkan sebagai sumber rujukan, dengan cara merekonstruksi alam
pemikiran Pancasila seperti yang diidealisasikan oleh para pendiri bangsa.
Usaha rekonstruksi ini dimaksudkan untuk merepresentasikan “tipe-tipe ideal”
dalam pengertian Max Weber, yaitu suatu konstruksi ideal dari gagasan para
pendiri bangsa yang berkaitan dengan Pancasila dan UUD sebagai turunannya,
sebagai titik-tolak dan tolak ukur bagi penjabaran dan penyesuaian dalam
perundang-undangan, pilihan-pilihan kebijakan, praktik kenegaraan, dan
kehidupan kebangsaan dalam rangka menjawab tantangan aktual yang terus
berkembang. Namun, sebagaimana yang diingatkan Franz Magnis-Suseno dalam
pengantarnya, buku ini jauh lebih daripada hanya sekitar ulasan Pancasila.
Karena sebenarnya, buku ini sebuah kitab sejarah terjadinya dan berkembangnya
bangsa Indonesia. Dengan menggali secara rinci “hitorisitas, rasionalitas dan
aktualitas masing-masing sila Pancasila”.
Dalam
memulai buku ini, Yudi Latif menggunakan wacana ontologis terlebih dahulu.
Mula- mula
dengan lukisan geografis kepulauan Nusantara dalam perkembangannya sejak
puluhan ribu tahun Sebelum Masehi. Di dalamnya, ia manapaki geologi kebudayaan
dengan menceritakan juga evolusi kepercayaan masyarakat Nusantara, sejak dari
kepercayaan lokal yang disebut animisme dan dinamisme hingga datangnya
agama-agama dari luar yang dibawa oleh kaum imigran. Hal ini dilakukan Yudi,
karena menurutnya terbentuknya ideologi Pancasila hanya bisa dipahami dalam
konteks masyarakat majemuk dan multi agama. (Halaman 616).
Dengan
susunan kata yang sistematis dengan bahasa yang khas, buku ini merefleksikan
kesadaran dan keprihatinan bawa krisis yang mendera kehidupan kebangsaan ini
begitu luas cakupannya dan dalam penetrasinya. Kunci jawaban krisis itu
sesungguhnya bisa di temukan dari dasar falsafah dan pandangan hidup negara
Indonesia. Ketika bangsa ini tengah mengalami identitas krisis atas
ketidakmerdekaan, ketidakdaulatan, ketidakadilan dan ketidakmakmuran,
nilai-nilai dalam Pancasila memungkinkan untuk menjadi harapan kembali untuk re-identitas
bangsa. Tetapi yang mengagumkan adalah bahwa semua bagian dan detil dari isi
buku, seluruhnya padat dengan dokumen sejarah dan tawaran solusi yang cerdas.
Sehingga sah saja ketika diluncurkan buku ini mendapat pujian di mana-mana.
Selamat membaca.
Penulis:
Puji
Nuryati
Mahasiswi
Ilmu Administrasi Negara
Jurnalis
Lentera Post
