Rekonstruksi Nilai-Nilai Falsafah Bangsa

HTML

Rekonstruksi Nilai-Nilai Falsafah Bangsa

Sabtu, 13 Oktober 2012, 03.28

Rekonstruksi Nilai-Nilai Falsafah Bangsa

Jum’at, 1 Juni kemarin Indonesia memperingati hari bersejarah yaitu kelahiran pancasila yang sampai sekarang dijadikan falsafah bangsa, yaitu sebuah ni­lai dasar yang dijadikan pedoman warganya dalam berperilaku dan bertindak. Tujuan dahulu dicetus­kan pancasila oleh para pendiri kita founding father karena mereka memiliki cita-cita bahwa nilai-nilai fundamental yang digali dari warisan sejati bangsa bisa membuat Indonesia melesat, andaikata funda­men dasar itu dijadikan landasan pijak (common platform, atau kalimatun sawa). Namun kenyataan sekarang, ditengah gejolak sosial dan dan aspek-as­pek dinamis mobilitas yang terjadi dalam masyara­kat nilai-nilai pancasila kurang di anut lagi oleh kita, bahkanmemicu untuk dilakukan penafsiran-penaf­siran yang kontekstual terhadap perkembangan jaman. Secara historis nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum dirumuskan dan di sahkan, secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri. Dalam hal ini berarti bang­sa Indonesia merupakan kausa materialis Pancasila.

Kehadiran buku ini dimaksudkan sebagai sum­ber rujukan, dengan cara merekonstruksi alam pe­mikiran Pancasila seperti yang diidealisasikan oleh para pendiri bangsa. Usaha rekonstruksi ini dimak­sudkan untuk merepresentasikan “tipe-tipe ideal” dalam pengertian Max Weber, yaitu suatu konstruksi ideal dari gagasan para pendiri bangsa yang berkai­tan dengan Pancasila dan UUD sebagai turunannya, sebagai titik-tolak dan tolak ukur bagi penjabaran dan penyesuaian dalam perundang-undangan, pilihan-pilihan kebijakan, praktik kenegaraan, dan kehidupan kebangsaan dalam rangka menjawab tantangan aktual yang terus berkembang. Namun, sebagaimana yang diingatkan Franz Magnis-Suseno dalam pengantarnya, buku ini jauh lebih daripada hanya sekitar ulasan Pancasila. Karena sebena­rnya, buku ini sebuah kitab sejarah terjadinya dan berkembangnya bangsa Indonesia. Dengan meng­gali secara rinci “hitorisitas, rasionalitas dan aktuali­tas masing-masing sila Pancasila”.

Dalam memulai buku ini, Yudi Latif meng­gunakan wacana ontologis terlebih dahulu. Mula- mula dengan lukisan geografis kepulauan Nusantara dalam perkembangannya sejak puluhan ribu tahun Sebelum Masehi. Di dalamnya, ia manapaki geologi kebudayaan dengan menceritakan juga evolusi ke­percayaan masyarakat Nusantara, sejak dari keper­cayaan lokal yang disebut animisme dan dinamisme hingga datangnya agama-agama dari luar yang diba­wa oleh kaum imigran. Hal ini dilakukan Yudi, karena menurutnya terbentuknya ideologi Pancasila hanya bisa dipahami dalam konteks masyarakat majemuk dan multi agama. (Halaman 616).

Dengan susunan kata yang sistematis dengan bahasa yang khas, buku ini merefleksikan kesada­ran dan keprihatinan bawa krisis yang mendera kehidupan kebangsaan ini begitu luas cakupannya dan dalam penetrasinya. Kunci jawaban krisis itu sesungguhnya bisa di temukan dari dasar falsafah dan pandangan hidup negara Indonesia. Ketika bangsa ini tengah mengalami identitas krisis atas ketidakmerdekaan, ketidakdaulatan, ketidakadilan dan ketidakmakmuran, nilai-nilai dalam Pancasila memungkinkan untuk menjadi harapan kembali un­tuk re-identitas bangsa. Tetapi yang mengagumkan adalah bahwa semua bagian dan detil dari isi buku, seluruhnya padat dengan dokumen sejarah dan ta­waran solusi yang cerdas. Sehingga sah saja ketika diluncurkan buku ini mendapat pujian di mana-ma­na. Selamat membaca.

Penulis:
Puji Nuryati
Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara
Jurnalis Lentera Post

TerPopuler