PENGEMBANGAN KARAKTER ANTI KORUPSI

Sudah
kita ketahui dengan seksama bahwassnnya korupsi merupakan perbuatan yang sangat
merugikan sebagai penghambat kemajuan bangsa ini. Korupsi dewasa ini di
Indonesia kita lihat semakin menjamur dan bahkan sudah menjadi-jadi. Terlihat sudah
banyak korupsi yang dulu hanya biasa dilakukan oleh kelompok kaum elit politik,
namun kini sudah merambah pada tataran yang lebih rendah, seperti tingkat
birokrasi Kelurahan, RT, RW pun sudah terlibat yang namanya korupsi. Lebih
parahnya lagi korupsi yang dilakukannya pun kini bukan lagi dengan cara
sembunyi-sembunyi melainkan sudah terang-terangan. Maka tidaklah heran bila Muh.
Hatta (1970) pernah mengatakan bahwa korupsi di negeri ini sudah menjadi
budaya.
Melihat
hal demikian itu, korupsi haruslah diberantas sedini mungkin seperti yang
dilakukan oleh pihak Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai salah satu
instansi pendidikan yang memiliki kewajiban turut serta dalam pemberantasan korupsi
dengan pendidikan anti korupsi.
Sebanyak 1.409 mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta
(UNY) mengikuti pelatihan pengembangan karakter mahasiswa UNY dengan tema
“Tangguh, Ksatria, Daya Juang Tinggi, Anti Kekerasan, Anti Korupsi, dan Anti
Narkoba”, sabtu-minggu (22-23 September 2012) di Gor UNY.
Adapun sebagai pemateri sosialisasi pemberantasan korupsi
adalah Sandri Justiana, Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Deputi
Pencegahan Korupsi spesialis pendidikan masyarakat mengatakan bahwa korupsi
bukanlah masalah tanggungjawab KPK, pemerintah maupun Negara, melainkan masalah
tanggungjawab kita semua. Sandri memberikan ilustrasi dengan filosofi 5 jari
tangan kita, yakni Jempol yang difilosofikan sebagai pemimpin yang luarbiasa;
Telunjuk difilosofikan sebagai orang kaya, dengan telunjuk dia bisa melakukan
perintah dan kebijakan; Jari Tengah difilosofikan sebagai Ulama, Hakim, KPU
yang bersifat netral; Kelingking difilosofikan sebagai kaum remaja yang manis
dan labil masih dalam pencarian jatidiri; yang terakhir Jari Manis
difilosofikan sebagai perempuan yang merupakan mahkluk lemah namun sejatinya
kuat.
“Bila
kelima jari yang telah difilosofikan tersebut bisa kita gerakkan semua
bersama-sama dalam membersihkan korupsi insyallah korupsi di negeri ini akan
hilang, bila kita berfikir memberantas korupsi mudah dan gampang maka akan
mudah dan gampang bagi kita semua untuk memberantasnya, namun bila kita tak
berfikir demikian, maka akan susah dan sulit” kata Sandri.
Selain itu, dalam upaya penanaman karakter anti korupsi,
Sandri mengatakan generasi penerus maupun masyarakat kita setidaknya harus
memiliki 5 karakter anti Korupsi yang perlu ditanamkan sejak dini mungkin, diantaranya;
jujur, peduli, disiplin, berani, dan teladan.
“Salah
satu karakter, berani. Kita semua harus berani menolak ajakan korupsi, berani
mengatakan tidak korupsi, berani mengajak untuk tidak korupsi, berani
melaporkan kasus korupsi, dan berani menindak koruptor”. Kata Sandri lebih
lanjut.
Selain pelatihan penanaman anti korupsi dari KPK, peserta
pelatihan juga dilatih menjadi mahasiswa yang tangguh, ksatria, daya juang
tinggi, anti kekerasan, dan anti narkoba yang dilatih langsung oleh Anggota
KOPASSUS, BNN RI (Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia), dan Polres
Sleman. [*]
Penulis
Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Jurnalis Lentera Post
Jurnalis Lentera Post