PENGEMBANGAN KARAKTER ANTI KORUPSI

HTML

PENGEMBANGAN KARAKTER ANTI KORUPSI

Sabtu, 13 Oktober 2012, 19.00
PENGEMBANGAN  KARAKTER ANTI KORUPSI 



Sudah kita ketahui dengan seksama bahwassnnya korupsi merupakan perbuatan yang sangat merugikan sebagai penghambat kemajuan bangsa ini. Korupsi dewasa ini di Indonesia kita lihat semakin menjamur dan bahkan sudah menjadi-jadi. Terlihat sudah banyak korupsi yang dulu hanya biasa dilakukan oleh kelompok kaum elit politik, namun kini sudah merambah pada tataran yang lebih rendah, seperti tingkat birokrasi Kelurahan, RT, RW pun sudah terlibat yang namanya korupsi. Lebih parahnya lagi korupsi yang dilakukannya pun kini bukan lagi dengan cara sembunyi-sembunyi melainkan sudah terang-terangan. Maka tidaklah heran bila Muh. Hatta (1970) pernah mengatakan bahwa korupsi di negeri ini sudah menjadi budaya.

Melihat hal demikian itu, korupsi haruslah diberantas sedini mungkin seperti yang dilakukan oleh pihak Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai salah satu instansi pendidikan yang memiliki kewajiban turut serta dalam pemberantasan korupsi dengan pendidikan anti korupsi.

Sebanyak 1.409 mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengikuti pelatihan pengembangan karakter mahasiswa UNY dengan tema “Tangguh, Ksatria, Daya Juang Tinggi, Anti Kekerasan, Anti Korupsi, dan Anti Narkoba”, sabtu-minggu (22-23 September 2012) di Gor UNY.

Adapun sebagai pemateri sosialisasi pemberantasan korupsi adalah Sandri Justiana, Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Deputi Pencegahan Korupsi spesialis pendidikan masyarakat mengatakan bahwa korupsi bukanlah masalah tanggungjawab KPK, pemerintah maupun Negara, melainkan masalah tanggungjawab kita semua. Sandri memberikan ilustrasi dengan filosofi 5 jari tangan kita, yakni Jempol yang difilosofikan sebagai pemimpin yang luarbiasa; Telunjuk difilosofikan sebagai orang kaya, dengan telunjuk dia bisa melakukan perintah dan kebijakan; Jari Tengah difilosofikan sebagai Ulama, Hakim, KPU yang bersifat netral; Kelingking difilosofikan sebagai kaum remaja yang manis dan labil masih dalam pencarian jatidiri; yang terakhir Jari Manis difilosofikan sebagai perempuan yang merupakan mahkluk lemah namun sejatinya kuat.

“Bila kelima jari yang telah difilosofikan tersebut bisa kita gerakkan semua bersama-sama dalam membersihkan korupsi insyallah korupsi di negeri ini akan hilang, bila kita berfikir memberantas korupsi mudah dan gampang maka akan mudah dan gampang bagi kita semua untuk memberantasnya, namun bila kita tak berfikir demikian, maka akan susah dan sulit” kata Sandri.

Selain itu, dalam upaya penanaman karakter anti korupsi, Sandri mengatakan generasi penerus maupun masyarakat kita setidaknya harus memiliki 5 karakter anti Korupsi yang perlu ditanamkan sejak dini mungkin, diantaranya; jujur, peduli, disiplin, berani, dan teladan.

“Salah satu karakter, berani. Kita semua harus berani menolak ajakan korupsi, berani mengatakan tidak korupsi, berani mengajak untuk tidak korupsi, berani melaporkan kasus korupsi, dan berani menindak koruptor”. Kata Sandri lebih lanjut.

Selain pelatihan penanaman anti korupsi dari KPK, peserta pelatihan juga dilatih menjadi mahasiswa yang tangguh, ksatria, daya juang tinggi, anti kekerasan, dan anti narkoba yang dilatih langsung oleh Anggota KOPASSUS, BNN RI (Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia), dan Polres Sleman. [*]

Penulis
Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Jurnalis Lentera Post

TerPopuler